Showing posts with label Bhagavad-gita Menurut Aslinya. Show all posts
Showing posts with label Bhagavad-gita Menurut Aslinya. Show all posts

Friday, 10 July 2015

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI

Sloka 4.25

daivam evāpare yajñaḿ
yoginaḥ paryupāsate
brahmāgnāv apare yajñaḿ
yajñenaivopajuhvati

daivam—dalam menyembah para dewa; evā—seperti ini; apare—beberapa yang lain; yajñām—korban-korban suci; yoginaḥ—para ahli kebatinan; paryupāsate—menyembah secara sempurna; brahma—mengenai Kebenaran Mutlak; agnau—di dalam api; apare—orang lain; yajñām—korban suci; yajñena—oleh korban suci; evā—demikian; upajuhvati—mempersembahkan.

Beberapa yogi menyembah para dewa yang sempurna dengan cara menghaturkan berbagai jenis korban suci kepada mereka, dan beberapa di antaranya mempersembahkan korban-korban suci dalam api Brahman Yang Paling Utama.

PENJELASAN: Sebagaimana diuraikan di atas, orang yang tekun melaksanakan tugas-tugas kewajiban dalam kesadaran Krishna juga disebut seorang yogi yang sempurna atau ahli kebatinan kelas utama. Tetapi ada juga orang lain yang melakukan korban-korban yang serupa dalam sembahyang kepada para dewa, dan ada orang lain lagi yang berkorban kepada Brahman Yang Paling Utama, atau aspek bukan pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Jadi, ada berbagai jenis korban suci menurut golongan-golongan yang berbeda. Aneka golongan korban suci yang dilakukan oleh berbagai jenis pelaksana seperti itu hanya menggariskan aneka jenis korban suci secara lahiriah. Korban suci yang sejati berarti memuaskan Tuhan Yang Maha Esa, Visnu, yang juga bernama yajñā. Segala jenis korban suci terdiri dari dua golongan utama yaitu; mengorbankan harta benda material dan korban suci dalam usaha mencari pengetahuan rohani. Orang yang sadar akan Krishna mengorbankan segala harta benda material untuk memuaskan Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan orang lain, yang ingin mendapatkan kesenangan material yang bersifat sementara mengorbankan harta bendanya untuk memuaskan para dewa, misalnya Indra, dewa matahari, dan sebagainya. Orang lain, yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan, mengorbankan identitasnya dengan cara menunggal ke dalam keberadaan Brahman yang tidak bersifat pribadi. Para dewa adalah makhluk-makhluk hidup perkasa yang dikuasakan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk memelihara dan mengawasi segala fungsi material seperti memanaskan, menyirami dan menerangi alam semesta. Orang yang tertarik untuk mendapat keuntungan material menyembah para dewa dengan berbagai korban suci menurut ritual-ritual Veda. Mereka disebut bahv-Isvaravadi, atau orang yang percaya kepada banyak dewa. Tetapi orang lain, yang menyembah aspek tak pribadi Kebenaran Mutlak dan menganggap bentuk-bentuk para dewa bersifat sementara mengorbankan diri individualnya ke dalam api yang paling utama. Dengan demikian mereka mengakhiri keberadaan individualnya melalui cara menunggal ke dalam keberadaan Yang Mahakuasa. Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan seperti itu mengorbankan waktunya dalam angan-angan filsafat untuk mengerti sifat rohani Yang Mahakuasa. Dengan kata lain, orang yang bekerja dengan tujuan mendapat hasil atau pahala untuk dinikmati mengorbankan harta benda materialnya untuk kenikmatan material, sedangkan orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan mengorbankan julukan materialnya dengan maksud menunggal ke dalam keberadaan Yang Mahakuasa. Tempat menghaturkan korban suci dengan api adalah Brahman Yang Paling Utama bagi orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan. Yang dipersembahkan ialah sang diri yang dimakan oleh api Brahman. Akan tetapi, orang yang sadar akan Krishna seperti Arjuna, mengorbankan segala sesuatu untuk memuaskan Krishna, dan dengan demikian, harta benda materialnya berikut Diri-Nya sendiri—segala sesuatu—dikorbankan untuk Krishna. Karena itu, orang yang sadar akan Krishna adalah yogi kelas satu; tetapi ia tidak kehilangan keberadaan pribadinya.

Tuesday, 7 July 2015

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI

Sloka 4.24

brahmārpaṇaḿ brahma havir
brahmāgnau brahmaṇā hutam
brahmaiva tena gantavyaḿ
brahma-karma-samādhinā

 brahma—bersifat rohani; arpaṇam—sumbangan; brahma—Yang Mahakuasa; haviḥ—mentega; brahma—rohani; agnau—di dalam api penyempurnaan; brahmaṇā—oleh sang roh; hutam—dipersembahkan; brahma—kerajaan  rohani; evā—pasti; tena—oleh dia; gantavyam—untuk dicapai; brahma—rohani; karma—dalam kegiatan; samādhinā—dengan menjadi tekun sepenuhnya.

Orang yang tekun sepenuhnya dalam kesadaran Krishna pasti akan mencapai kerajaan rohani karena dia sudah menyumbang sepenuhnya kepada kegiatan rohani. Dalam kegiatan rohani tersebut penyempurnaan bersifat mutlak dan apa yang dipersembahkan juga mempunyai sifat rohani yang sama.

PENJELASAN: Di sini diuraikan bagaimana kegiatan dalam kesadaran Krishna akhirnya dapat membawa seseorang sampai tujuan rohani. Ada berbagai kegiatan dalam kesadaran Krishna, dan semua kegiatan itu akan diuraikan dalam ayat-ayat berikut. Tetapi, sementara ini, hanya prinsip kesadaran Krishna diuraikan. Roh yang terikat, terjerat dalam pengaruh material, pasti akan bertindak dalam suasana material, namun ia harus keluar dari lingkungan seperti itu. Proses yang memungkinkan roh yang terikat keluar dari suasana material ialah kesadaran Krishna. Misalnya, orang yang menderita sakit perut akibat minum susu terlalu banyak disembuhkan dengan makanan lain terbuat dari susu, yaitu susu asam. Roh yang terikat dan terlibat sepenuhnya dalam keduniawian dapat disembuhkan oleh kesadaran Krishna sebagaimana dikemukakan di sini dalam Bhagavad-gita. Proses tersebut pada umumnya dikenal sebagai yajñā, atau kegiatan (korban suci) yang hanya dimaksudkan untuk memuaskan Visnu, atau Krishna. Makin banyak kegiatan dunia material yang dilakukan dalam kesadaran Krishna, atau hanya untuk Visnu saja, makin suasana dirohanikan dengan cara penyerapan sepenuhnya. Kata brahma (Brahman) berarti rohani." Tuhan bersifat rohani, dan sinar dari badan rohani Beliau disebut brahmajyoti, cahaya rohani Beliau. Segala sesuatu yang ada terletak dalam brahmajyoti itu, tetapi apabila jyoti ditutupi oleh khayalan (mayā ) atau kepuasan indera-indera itu disebut material. Tirai material tersebut dapat segera dihilangkan oleh kesadaran Krishna. Jadi, persembahan demi kesadaran Krishna, unsur yang memakan persembahan atau sumbangan seperti itu, proses makan, orang yang menyumbang, dan hasilnyā—semua digabungkan bersama-sama—adalah Brahman, atau Kebenaran Mutlak. Kebenaran Mutlak yang ditutupi oleh mayā  disebut alam. Apabila alam digabungkan demi Kebenaran Mutlak, alam memperoleh kembali sifat rohaninya. Kesadaran Krishna adalah proses untuk mengubah kesadaran khayalan menjadi Brahman atau Yang Mahakuasa. Apabila pikiran khusuk sepenuhnya dalam kesadaran Krishna, dikatakan bahwa pikiran berada dalam samadhi, atau semadi. Apapun yang dilakukan dalam kesadaran rohani seperti itu disebut yajñā, atau korban suci demi Sang Mutlak. Dalam kesadaran rohani seperti itu, orang yang menyumbang, sumbangan, cara sumbangan itu dimakan, pelaksana atau pemimpin pelaksanaan, serta hasil atau keuntungan pada akhirnya—segala sesuatu—menjadi satu dalam Sang Mutlak, Brahman Yang Paling Utama. Itulah cara kesadaran Krishna.

Monday, 6 July 2015

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI

Sloka 4.23

gata-sańgasya muktasya
jñānāvasthita-cetasāḥ
yajñāyācarataḥ karma
samagraḿ pravilīyate

gata-sańgasya—mengenai orang yang tidak terikat pada sifat-sifat alam material; muktasya—mengenai orang yang mencapai pembebasan; jñāna-avasthita—mantap dalam kerohanian; cetasāh—orang yang kebijaksanaannya; yajñāya—demi yajñā (Krishna); ācarataḥ—bertindak; karma—pekerjaan; samagram—secara keseluruhan; praviliyate—menunggal sepenuhnya.

Pekerjaan orang yang tidak terikat kepada sifat-sifat alam material dan mantap sepenuhnya dalam pengetahuan rohani menunggal sepenuhnya ke dalam kerohanian.

PENJELASAN: Dengan menjadi sadar akan Krishna sepenuhnya, seseorang dibebaskan dari segala hal yang relatif dan dengan demikian ia dibebaskan dari pencemaran sifat-sifat material. Dia dapat mencapai pembebasan karena dia mengetahui kedudukan dasarnya berhubungan dengan Krishna; jadi, pikirannya tidak dapat ditarik oleh hal-hal di luar kesadaran Krishna. Karena itu, apapun yang dilakukannya, dilakukan untuk Krishna. Krishna adalah Visnu yang asli. Karena itu, semua pekerjaannya dapat disebut dengan istilah korban suci, sebab korban suci bertujuan memuaskan Kepribadian Yang Paling Utama, Visnu, Krishna. Reaksi hasil segala pekerjaan seperti itu tentu saja menunggal ke dalam kerohanian, dan seseorang tidak menderita efek-efek material.

Wednesday, 24 June 2015

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI

Sloka 4.22

yadṛcchā-lābha-santuṣṭo
dvandvātīto vimatsaraḥ
samaḥ  siddhāv asiddhau ca
kṛtvāpi na nibadhyate


yadṛcchā—dengan sendirinya; lābha—dengan keuntungan; santuṣṭaḥ—puas; dvandva—hal-hal yang relatif; atītaḥ—dilampaui; vimatsaraḥ—bebas dari rasa iri; samaḥ—mantap; siddhau—dalam sukses; asiddhau—kegagalan; ca—juga; kṛtvā—melakukan; api—walaupun; na—tidak pernah; nibadhyate—dipengaruhi.

Orang yang puas dengan keuntungan yang datang dengan sendirinya, bebas dari hal-hal relatif, tidak iri hati, dan mantap baik dalam sukses maupun kegagalan, tidak pernah terikat, walaupun ia melakukan perbuatan.


PENJELASAN: Orang yang sadar akan Krishna tidak banyak berusaha bahkan untuk memelihara badannya sekalipun. Dia berpuas dengan keuntungan yang diperoleh dengan sendirinya. Dia tidak mengemis maupun meminjam, tetapi dia bekerja dengan jujur sesuai dengan kekuatannya, dan dia berpuas hati dengan apapun yang diperolehnya dengan pekerjaannya yang jujur. Karena itu, dia bebas dalam pencahariannya. Dia tidak membiarkan pengabdian siapapun mengalangi pengabdian pribadinya dalam kesadaran Krishna. Akan tetapi, untuk pengabdian kepada Krishna dia dapat ikut serta dalam jenis perbuatan manapun tanpa diganggu oleh hal-hal relatif dari dunia material. Hal-hal yang relatif di dunia material dirasakan sebagai panas dingin, atau kesengsaraan dan kebahagiaan. Orang yang sadar akan Krishna berada di atas hal-hal yang relatif karena dia tidak ragu-ragu bertindak dengan cara manapun untuk memuaskan Krishna. Karena itu, dia mantap, baik dalam sukses maupun dalam kegagalan. Tanda-tanda tersebut dapat dilihat kalau seseorang sudah memiliki pengetahuan rohani sepenuhnya.

Tuesday, 23 June 2015

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI

Sloka 4.21

nirāśīr yata-cittātmā
tyakta-sarva-parigrahaḥ
śārīraḿ kevalaḿ karma
kurvan nāpnoti kilbiṣam

nirāśīḥ—tanpa keinginan untuk mendapatkan hasil; yata—dikendalikan; citta-ātmā—pikiran dan kecerdasan; tyakta—meninggalkan; sarva—semuanya; parigrahaḥ—rasa memiliki harta benda; śārīram—dalam memelihara jiwa dan raga; kevalam—hanya; karma—pekerjaan; kurvan—melaksanakan; na—tidak pernah; āpnoti—memperoleh; kilbisam—reaksi-reaksi dosa.

Orang yang mengerti bertindak dengan pikiran dan kecerdasan dikendalikan secara sempurna. Ia meninggalkan segala rasa memiliki harta bendanya dan hanya bertindak untuk kebutuhan dasar hidup. Bekerja dengan cara seperti itu, ia tidak dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dosa.

PENJELASAN: Orang yang sadar akan Krshna tidak mengharapkan hasil yang baik maupun buruk dalam kegiatannya. Pikiran dan kecerdasannya terkendalikan sepenuhnya. Dia mengetahui bahwa Diri-Nya adalah bagian dari Yang Mahakuasa yang mempunyai sifat seperti Yang Mahakuasa. Karena itu, peranan yang dimainkannya, sebagai bagian dari keseluruhan yang mempunyai sifat yang sama seperti keseluruhan itu, bukan kegiatannya sendiri, tetapi hanya sedang dilakukan oleh Yang Mahakuasa melalui dia. Apabila tangan bergerak, tangan tidak bergerak sendiri, tetapi karena usaha seluruh tubuh. Orang yang sadar akan Krishna selalu digabungkan dengan keinginan Yang Mahakuasa, sebab dia tidak mempunyai keinginan untuk kepuasan indera-indera pribadi. Dia bergerak persis seperti suku cadang dalam mesin. Suku cadang dalam mesin perlu diberi oli dan dibersihkan untuk dipelihara. Begitupula, orang yang sadar akan Krishna memelihara Diri-Nya dengan pekerjaannya hanya supaya Diri-Nya tetap kuat untuk melakukan perbuatan dalam cinta-bhakti rohani kepada Tuhan. Karena itu, ia kebal terhadap segala reaksi dari usaha-usahanya. Bagaikan binatang dia tidak mempunyai hak milik bahkan atas badannya sendiri. Pemilik binatang yang kejam kadang-kadang membunuh binatang yang dimilikinya, namun binatang itu tidak mengajukan keberatan. Binatang itu juga tidak mempunyai kebebasan yang sebenarnya. Orang yang sadar akan Krishna tekun sepenuhnya dalam keinsafan diri. Karena itu, sedikit sekali waktunya untuk memiliki obyek material manapun secara palsu. Dia tidak memerlukan cara yang tidak halal untuk mengumpulkan uang guna memelihara jiwa dan raganya. Jadi, dia tidak dicemari oleh dosa-dosa material seperti itu. Dia bebas dari segala reaksi perbuatannya.

Monday, 22 June 2015

PENGETAHUAN ROHANI

Sloka 4.20

tyaktvā karma-phalāsańgaḿ
nitya-tṛpto nirāśrayaḥ
karmaṇy abhipravṛtto 'pi
naiva kiñcit karoti saḥ

Dengan melepaskan segala ikatan terhadap segala hasil kegiatannya, selalu puas dan bebas, dia tidak melakukan perbuatan apapun yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala, walaupun ia sibuk dalam segala jenis usaha.

PENJELASAN: Kebebasan dari ikatan perbuatan tersebut hanya dimungkinkan dalam kesadaran Krishna, apabila seseorang melakukan segala sesuatu untuk Krishna. Orang yang sadar akan Krishna bertindak berdasarkan cinta bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, dia tidak tertarik sama sekali terhadap hasil perbuatan. Ia tidak terikat untuk memelihara dirinya sendiri, sebab segala sesuatu diserahkan kepada Krishna. Dia juga tidak berhasrat memperoleh benda-benda ataupun untuk melindungi benda-benda yang sudah dimilikinya. Dia melakukan tugas kewajiban sebaik-baiknya menurut kemampuannya dan dia menyerahkan segala sesuatu kepada Krishna. Orang yang tidak terikat seperti itu selalu bebas dari reaksi-reaksi sebagai akibat hal yang baik dan hal yang buruk; seolah-olah dia tidak berbuat apa-apa. Inilah tanda akarma, atau perbuatan tanpa reaksi dari kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala. Karena itu, perbuatan apapun yang lain yang kekurangan kesadaran Krishna akan mengikat orang yang mengerjakannya, dan itulah ciri vikarma yang nyata, sebagaimana dijelaskan di atas.

Thursday, 18 June 2015

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI

Sloka 4.19
yasya sarve samārambhāḥ
kāma-sańkalpa-varjitāḥ
jñānāgni-dagdha-karmaṇaḿ
tam āhuḥ paṇḍitaḿ budhāḥ

Dimengerti bahwa seseorang memiliki pengetahuan sepenuhnya kalau setiap usahanya bebas dari keinginan untuk kepuasan indera-indera. Para resi mengatakan bahwa reaksi pekerjaan orang yang bekerja seperti itu sudah dibakar oleh api pengetahuan yang sempurna.

PENJELASAN: Hanya orang yang mempunyai pengetahuan sepenuhnya dapat mengerti kegiatan orang yang sadar akan Krishna. Oleh karena orang dalam kesadaran Krishna bebas dari segala jenis kecenderungan untuk memuaskan indera-indera, dimengerti bahwa dia sudah membakar reaksi pekerjaannya dengan pengetahuan sempurna tentang kedudukan dasarnya sebagai hamba Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang kekal. Orang yang sudah mencapai kesempurnaan pengetahuan seperti itu sungguh-sungguh bijaksana. Mengembangkan pengetahuan ini tentang pengabdian kekal kepada Tuhan diumpamakan sebagai api. Begitu api seperti itu dinyalakan, api itu dapat membakar segala jenis reaksi pekerjaan.

Wednesday, 17 June 2015

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI

Sloka 4.18


karmaṇy akarma yaḥ paśyed
akarmaṇi ca karma yaḥ
sa buddhimān manuṣyeṣu
sa yuktaḥ kṛtsna-karma-kṛt

Orang yang melihat keadaan tidak melakukan perbuatan dalam perbuatan, dan perbuatan dalam keadaan tidak melakukan perbuatan, adalah orang cerdas dalam masyarakat manusia. Dia berada dalam kedudukan rohani, walaupun ia sibuk dalam segala jenis kegiatan.

PENJELASAN: Orang yang bertindak dalam kesadaran Krishna sewajarnya bebas dari ikatan karma. Kegiatan orang yang sadar akan Krishna semua dilakukan untuk Krishna. Karena itu, ia tidak menikmati atau menderita efek manapun dari pekerjaan dan dialah yang cerdas dalam masyarakat manusia, walaupun dia sibuk dalam segala jenis kegiatan untuk Krishna. Akarma berarti tanpa reaksi dari pekerjaan. Orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan menghentikan kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala karena takut, supaya perbuatan sebagai akibatnya tidak akan menjadi batu rintangan di jalan menuju keinsafan diri. Tetapi orang yang mengakui bentuk pribadi Tuhan mengetahui dengan benar tentang kedudukannya sebagai hamba Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang kekal. Karena itu, ia menekuni kegiatan kesadaran Krishna. Oleh karena segala sesuatu dilakukan demi Krishna, dia hanya menikmati kebahagiaan rohani dalam pelaksanaan pengabdian ini. Diketahui bahwa orang yang menekuni proses ini bebas dari keinginan untuk kepuasan indera-indera pribadi. Rasa pengabdian kekal kepada Krishna menyebabkan seseorang kebal terhadap segala unsur reaksi dari pekerjaan.

Tuesday, 16 June 2015

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI

Sloka 4.17

karmaṇo hy api boddhavyaḿ
boddhavyaḿ ca vikarmaṇaḥ
akarmaṇaś ca boddhavyaḿ
gahanā karmaṇo gatiḥ

Seluk beluk perbuatan sulit sekali dimengerti. Karena itu, hendaknya seseorang mengetahui dengan sebenarnya apa arti perbuatan, apa arti perbuatan yang terlarang, dan apa arti tidak melakukan perbuatan.

PENJELASAN: Kalau seseorang sungguh-sungguh ingin mencapai pembebasan dari ikatan material, ia harus mengerti perbedaan antara perbuatan, tidak melakukan perbuatan dan perbuatan yang tidak dibenarkan. Seseorang harus menekuni analisis perbuatan, reaksi dan perbuatan yang terputarbalik seperti itu, sebab itu merupakan mata pelajaran yang sulit sekali. Untuk mengerti kesadaran Krishna dan perbuatan menurut sifat-sifatnya, seseorang harus mempelajari hubungan antara dirinya dengan Yang Mahakuasa; yaitu orang yang sudah mempelajari hal ini secara sempurna mengetahui bahwa setiap makhluk hidup adalah hamba Tuhan yang kekal, dan karena itu, ia harus bertindak dalam kesadaran Krishna. Seluruh Bhagavad-gita diarahkan menuju kesimpulan tersebut. Kesimpulan-kesimpulan lain, yang bertentangan dengan kesadaran ini serta perbuatan-perbuatan sehubungan dengan kesadaran itu adalah vikarma, perbuatan terlarang. Untuk mengerti segala hal tersebut, orang harus bergaul dengan tujuan-tujuan yang dapat dipercaya dalam kesadaran Krishna dan mempelajari rahasia tersebut dari mereka; ini sama seperti belajar dari Tuhan Sendiri. Kalau tidak demikian, orang yang paling cerdas sekalipun akan dibingungkan.
 

Tuesday, 25 November 2014

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI


Sloka 4.16

kim karma kim akarmeti
kavayo ‘py atra mohitah
tat te karma pravaksyami
yaj jnatva moksyase ‘subhat

Orang cerdaspun bingung dalam menentukan apa itu perbuatan dan apa arti tidak melakukan perbuatan. Sekarang  Aku akan menjelaskan kepadamu apa arti perbuatan, dan setelah mengetahui tentang hal ini engkau akan dibebaskan dari segala nasib yg malang.

PENJELASAN: Perbuatan dalam kesadaran Krishna harus dilaksanakan menurut teladan yg diberikan oleh para penyembah yg dapat dipercaya yg sudah mendahului kita. Hal ini dianjurkan dalam ayat kelima belas. Mengapa perbuatan tersebut seharusnya tidak dilakukan secara sendiri-sendiri akan dijelaskan dalam ayat berikut.
     Untuk bertindak dalam kesadaran Krishna, seseorang harus mengikuti tuntunan orang-orang yg dibenarkan dalam garis perguruan rohani sebagaimana dijelaskan pada awal bab ini. Sistem kesadaran Krishna diuraikan untuk pertama kalinya kepada dewa matahari. Dewa matahari menjelaskan ilmu pengetahuan itu kepada puteranya yg bernama Manu. Manu menjelaskna ilmu pengetahuan itu kepada puteranya yg bernama Iksvaku, dan sistem tersebut masih berjalan di bumi ini sejak jama purbakala itu. Karena itu, seseorang harus mengikuti langkah-langkah para penguasa dari dahulu dalam garis perguruan rohani. Kalau tidak demikian, orang yg paling cerdas sekalipun akan dibingungkan mengenai perbuatan baku kesadaran Krishna. Karena alasan inilah Krishna mengambil keputusan untuk mengajarkan kesadaran Krishna kepada Arjuna secara langsung. Oleh karena pelajaran langsung dari Krishna kepada Arjuna, siapa pun, yg mengikuti langkah-langkah Arjuna pasti tidak bingung.
     Dikatakan bahwa seseorang tidak dapat menentukan cara-cara dharma hanya dengan pengetahuan yg kurang sempurna berdasarkan percobaan. Sebenarnya, prinsip-prinsip dharma hanya dapat ditentukan oleh Tuhan Sendiri. Dharmam tu saksad bhagavad-pranitam (Bhag. 6.3.19). tiada seorang pun yg dapat menciptakan suatu prinsip dharma dengan angan-angannya yg kurang sempurna. Seseorang harus mengikuti langkah-langkah penguasa besar seperti Brahma, Siva, Narada, Manu, para Kumara, Kapila, Prahlada, Bhisma, Sukadeva Goswami, Yamaraja, Janaka, dan Bali Maharaja. Seseorang tidak dapat menentukan apa arti dharma ataupun keinsafan diri melalui angan-angan. Karena itu, atas karuniaNya yg tiada sebabnya terhadap para penyembahNya, Krishna menjelaskan secara langsung kepada Arjuna apa arti perbuatan dan apa arti tidak melakukan perbuatan. Hanya perbuatan yg dilakukan dalam kesadaran Krishna dapat menyelamatkan seseorang dari ikatan kehidupan material.

Monday, 24 November 2014

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI



Sloka 4.15
 
evam jnatva krtam karma
purvair api mumuksubhih
kuru karmaiva tasmat tvam
purvaih purvataram krtam

Semua orang yg sudah mencapai pembebasan pada jaman purbakala bertindak dengan pengertian tersebut tentang sifat rohaniKu. Karena itu, sebaiknya engkau melaksanakan tugas kewajibanmu dengan mengikuti langkah-langkah mereka.

PENJELASAN: Ada dua golongan manusia. Hati sebagian masyarakat manusia penuh hal-hal material yg kotor, dan sebagian bebas dari hal-hal material. Kesadaran Krishna bermanfaat bagi kedua golongan tersebut secara merata. Orang yg hatinya penuh hal-hal yg kotor dapat mulai mengikuti garis kesadaran Krishna untuk berangsur-angsur menyucikan diri, dengan mengikuti prinsip-prinsip yg mengatur bhakti. Orang yg sudah disucikan dari hal-hal kotor dapat terus bertindak dalam kesadaran Krishna yg sama supaya orang lain dapat mengikuti kegiatannya sebagai teladan dan dengan demikian mengambil manfaat. Orang bodoh atau orang yg baru mulai belajar kesadaran Krishna seringkali ingin mengundurkan diri dari kegiatan tanpa memiliki pengetahuan tentang kesadaran Krishna. Keinginan Arjuna untuk mengundurkan diri dari kegiatan di medan perang tidak dibenarkan oleh Krishna. Seseorang hanya perlu mengetahui bagaimana cara bertindak. Mengundurkan diri dari kegiatan kesadaran Krishna dan duduk tanpa ikut kegiatan orang lain sambil pura-pura sadar akan Krishna kurang penting daripada sungguh-sungguh menjadi sibuk di lapangan demi Krishna. Di sini Arjuna dinasehati agar dia bertindak dalam kesadaran Krishna, dengan mengikuti langkah-langkah murid-murid Krishna dari dahulu kala, misalnya Vivasvan, dewa matahari, sebagaimana tersebut di atas. Tuhan Yang Maha Esa mengetahui segala kegiatanNya dari masa lampau, dan juga segala kegiatan orang yg telah bertindak dalam kesadaran Krishna pada masa lampau. Karena itu, Beliau menganjurkan perbuatan dewa matahari, yg telah mempelajari ilmu pengetahuan ini dari Krishna beberapa juta tahun sebelumnya. Semua murid Sri Krishna seperti itu disebut di sini sebagai orang yg sudah mencapai pembebasan pada masa lampau. Mereka tekun melaksanakan tugas-tugas kewajiban yg diberikan oleh Krishna.

Sunday, 23 November 2014

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI



Sloka 4.14

na mam karmani limpati
na me karma-phale sprha
iti mam yo ‘bhijanati
karmabhir na sa badhyate

Tidak ada pekerjaan yg mempengaruhi DiriKu; Aku juga tidak bercita-cita mendapat hasil dari perbuatan. Orang yg mengerti kenyataan ini tentang DiriKu juga tidak akan terikat dalam reaksi-reaksi hasil pekerjaannya.

PENJELASAN: Seperti halnya ada undang-undang hukum di dunia material yg menyatakan bahwa raja tidak dapat disalahkan, atau raja tidak dipengaruhi oleh hukum-hukum negara, begitu pula, walaupun Krishna adalah Pencipta dunia material ini, Beliau tidak dipengaruhi oleh kegiatan dunia material. Krishna menciptakan dan tetap menyisih dari ciptaan, sedangkan para makhluk hidup terikat dalam hasil-hasil kegiatan material karena kecenderungan mereka untuk berkuasa atas sumber-sumber alam. Pemilik suatu perusahaan tidak bertanggung jawab atas kegiatan benar dan salah para buruh, tetapi para buruh sendiri bertanggung jawab. Para makhluk hidup sibuk dalam kepuasan indria-indria masing-masing, dan kegiatan itu tidak dilakukan atas perintah Krishna. Demi kemajuan kepuasan indria-indria, para makhluk hidup sibuk dalam pekerjaan di dunia ini, dan mereka bercita-cita mendapat kebahagiaan di surga sesudah meninggal. Krishna sempurna dalam DiriNya sendiri. Karena itu, Krishna tidak tertarik kepada apa yg hanya namanya saja kebahagiaan di surga. Para dewa di surga hanya hamba-hamba yg sibuk mengabdikan diri kepada Beliau. Pemilik perusahaan tidak pernah menginginkan kesenangan kelas rendah yg barangkali diinginkan oleh para buruh. Krishna menyisih dari perbuatan dan reaksi material. Misalnya, hujan tidak bertanggung jawab untuk berbagai jenis tumbuhan yg muncul di muka bumi, walaupun tanpa hujan seperti itu tidak mungkin ada tumbuhan. Kenyataan ini dibenarkan dalam Smrti Veda sebagai berikut:

nimitta-matram evasau
srjyanam sarga-karmani
pradhana-karani-bhuta
yato vai srjya-saktayah

“Dalam ciptaan material, Tuhan hanyalah sebab yg paling utama. Sebab sementara ialah alam material, yg memungkinkan manifestasi alam semesta dapat dilihat.” Ada berbagai jenis makhluk hidup yg diciptakan, misalnya para dewa, manusia, dan binatang-binatang yg lebih rendah, dan semuanya dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dari kegiatan baik dan kegiatan buruk yg dilakukannya pada masa lampau. Krishna hanya memberikan fasilitas yg benar kepada mereka untuk kegiatan seperti itu serta peraturan dari sifat-sifat alam, tetapi Beliau tidak pernah bertanggung jawab atas kegiatan mereka baik pada masa lampau maupun sekarang. Dalam Vedanta-sutra (2.1.34) dibenarkan, vaisamya-nairghrnye na sapeksatvat: Krishna tidak pernah berat sebelah terhadap makhluk hidup manapun. Makhluk hidup bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Krishna hanya memberikan fasilitas kepada makhluk hidup, melalui perantara alam material, yaitu tenaga luar. Orang yg menguasai sepenuhnya segala seluk beluk hukum karma tersebut, atau kegiatan yg dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala tidak dipengaruhi oleh hasil kegiatannya. Dengan kata lain, orang yg mengerti sifat rohani Krishna adalah orang berpengalaman dalam kesadaran Krishna, dan karena itu, ia tidak pernah dipengaruhi oleh hukum-hukum karma. Orang yg tidak mengetahui sifat rohani Krishna dan berpikir bahwa kegiatan Krishna bertujuan untuk menghasilkan sesuatu, seperti halnya dengan kegiatan para makhluk hidup biasa, pasti akan terikat dalam reaksi-reaksi hasil perbuatan. Tetapi orang yg mengetahui Kebenaran Yang Paling Utama adalah roh yg sudah mencapai pembebasan dan mantap dalam kesadaran Krishna.

Thursday, 13 November 2014

BAB 4: PENGETAHUAN ROHANI



Sloka 4.13

catur-varnyam maya srstam
guna-karma-vibhagasah
tasya kartaram api mam
viddhy akartaram avyayam

Menurut tiga sifat alam dan pekerjaan yg ada hubungannya dengan sifat-sifat itu, empat bagian masyarakat manusia diciptakan olehKu. Walaupun Akulah yg menciptakan sistem ini, hendaknya engkau mengetahui bahwa aku tetap sebagai yg tidak berbuat, karena aku tidak dapat diubah.

PENJELASAN: Tuhan adalah pencipta segala sesuatu. Segala sesuatu dilahirkan dari Beliau, segala sesuatu dipelihara oleh Beliau, dan sesudah peleburan, segala sesuatu bersandar di dalam Beliau. Karena itu, Tuhan adalah Pencipta empat bagian susunan masyarakat, mulai dari golongan manusia yg cerdas, yg disebut dengan istilah brahmana, karena mereka mantap dalam sifat kebaikan. Golongan kedua adalah golongan administrator, yg disebut dengan istilah ksatriya karena mereka berada dalam sifat nafsu. Para pedagang, yg disebut dengan istilah vaisya, berada dalam sifat-sifat nafsu dan kebodohan, dan para sudra, atau golongan buruh, berada dalam sifat kebodohan alam material. Walaupun Krishna menciptakan empat bagian dalam kemasyarakatan manusia, Beliau Sendiri  tidak termasuk salah satu dari bagian-bagian itu, sebab Beliau bukan salah satu di antara roh-roh terikat. Sebagian roh-roh yg terikat itu merupakan masyarakat manusia. Masyarakat manusia mirip dengan masyarakat binatang lainnya, tetapi untuk mengangkat manusia dari tingkat binatang, empat bagian tersebut di atas diciptakan oleh Tuhan untuk mengembangkan kesadaran Krishna secara sistematis. Kecenderungan seorang manusia terhadap pekerjaan ditentukan oleh sifat-sifat alam material yg telah diperolehnya. Gejala-gejala kehidupan seperti itu, menurut aneka sifat alam, diuraikan dalam Bab Delapan Belas dari Bhagavad-gita. Akan tetapi, orang yg sadar akan Krishna berada di atas brahmana. Menurut sifatnya, seorang brahmana mengetahui tentang Brahman, Kebenaran Mutlak Yang Paling Utama. Kebanyakan brahmana hanya mendekati Brahman yg tidak berbentuk pribadi sebagai suatu manifestasi dari Sri Krishna. Tetapi hanya orang yg melampaui pengetahuan tentang Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna, dapat menjadi orang yg sadar akan Krishna—atau dengan kata lain, seorang vaisnava. Kesadaran Krishna termasuk segala pengetahuan tentang aneka penjelmaan yg berkuasa penuh dari Krishna yaitu: Rama, Nrsimha, Varaha, dan lain-lain. Akan tetapi, Krishna melampaui sistem tersebut yg terdiri dari empat bagian masyarakat manusia. Orang yg sadar akan Krishna juga melampaui segala bagian masyarakat manusia, baik bagian menurut masyarakat, bangsa maupun jenis kehidupan.
 
Free Website templatesFree Flash TemplatesRiad In FezFree joomla templatesSEO Web Design AgencyMusic Videos OnlineFree Wordpress Themes Templatesfreethemes4all.comFree Blog TemplatesLast NewsFree CMS TemplatesFree CSS TemplatesSoccer Videos OnlineFree Wordpress ThemesFree Web Templates